The Korean entertainment industry is once again presenting a family drama filled with emotion, old conflicts, and romance that blossoms amidst the conflict. In early 2026, the latest drama, "Recipe for Love," is ready to greet audiences with a story about two families locked in a decades-long grudge. This Korean drama will star several South Korean stars, including Jin Se Yeon and Park Ki Woong, and is supported by a cast of veteran actors, including Kim Seung Soo, Yoo Ho Jung, Kim Hyung Mook, and So Yi Hyun. Bringing together family drama, romance, and intergenerational emotional conflict, the Korean drama "Recipe for Love" promises a warm yet suspenseful story. Curious about what the story has to offer? Here's the complete synopsis. Recipe for Love Synopsis The Korean drama "Recipe for Love" tells the story of two families who have been bound by enmity for over 30 years. Past misunderstandings, unhealed wounds, and inherited egos continue to deterio...
Gerobak yang mangkal di beberapa sisi kota pelajar Jogjakarta tersebut, awalnya bernama HIK, singkatan dari Hidangan Istimewa -ala- Kampung ataupun Hidangan Istimewa Klaten.
Mengapa disebut HIK?
Dari cerita yang ada, sekitar tahun 1950 sesosok wajah bersahaja dari Cawas – Klaten bernama Mbah Pairo mengadu nasib merantau ke kota di sebelah barat kampungnya, Yogyakarta. Kedatangan Mbah Pairo tersebut memiliki tujuan berjuang demi menakhlukan kemiskinan yang dialami keluarga akibat ketiadaan lahan subur untuk bercocok-tanam. Cawas pada waktu itu adalah daerah tandus dan gersang yang secara adminstratif masuk wilayah kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.
Seperti menemukan keberuntungan, perjuangan Mbah Pairo di kota Jogja menuai keberhasilan, hal itu diperkuat oleh kenyataan bahwa generasi keturunannya juga meneruskan perjuangannya di Jogjakarta, ialah ‘angkringan Lik Man’ yang berada di sebelah utara stasiun Tugu.
Pada awalnya Mbah Pairo berjualan makanan kecil dan juga minuman dengan cara dipikul dan ngider berkeliling keluar masuk gang kampung serta perkotaan. Sambil membawa beban pikulan tersebut Mbah Pairo juga berteriak menawarkan dagangannya; ‘Hiiik…iyeek,‘ dan selain berteriak Mbah Pairo juga memukulkan piring, mangkok ataupun gelas dengan menggunakan sendoknya, sehingga mulai saat itu orang menyebutnya dengan julukan ting-ting hik. Lebih gampangnya disebutlah sebagai HIK, yang oleh sebagian orang diartikan sebagai singkatan dari “Hidangan Istimewa Kampung.”

Comments